PAI VIII BAB 12 Mengonsumsi Makanan dan Minuman yang Halal dan Menjauhi yang Haram ~ GEOGRAPIK

Dikisahkan ada seorang penjaga kebun buah-buahan bernama Mubarok.

Dia adalah orang jujur dan amanah. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di kebun tersebut. Suatu hari majikannya, sanga pemilik kebun, datang mengunjungi kebunnya.

Majikannya ternyata sedang mengalami masalah yang rumit berkaitan dengan putrinya.

Banyak pria yang mempersunting putrinya yang sudah beranjak dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik.

Masalahnya semua laki-laki yang ingin mempersunting putrinya adalah kerabat dan teman dekatnya.

Ia harus memilih salah satu dari mereka, tetapi ia khawatir jika menyinggung bagi kerabat yang tidak terpilih.

Sambil beristirahat dan menenangkan pikiran, ia ingin mencoba mencicipi hasil buah di kebunnya. Dipanggillah Mubarok, penjaga kebun itu.

“Hai Mubarok, kemarilah! Tolong ambilkan saya buah melon yang manis!” perintahnya.

Dengan sigap Mubarok segera memetik buah melon yang diminta, kemudian diberikan kepada majikannya.

Ketika buah tersebut dimakan sang majikan, ternyata rasanya tidak manis sama sekali.

Majikan itu berkata, “Wahai Mubarok! Buah ini tidak ada manisnya sama sekali. Berikan saya buah yang manis! pinta sang majikan lagi.

Untuk kedua kalinya, buah yang diberikan Mubarok belum terasa manis.

Sang majikan terheran-heran, sudah sekian lama ia mempekerjakan Mubarok, tetapi mengapa si penjaga kebun ini tidak mampu membedakan antara buah yang masih muda dan yang sudah masak? Ah, mungkin dia lupa, pikir sang majikan.

Dimintanya Mubarok untuk memetikkan kembali buah yang manis. Hasilnya sama saja, buah ketiga masih terasa tawar.

Rasa penasaran timbul dari sang majikan. Dipanggillah Mubarok, “Bukankah kau sudah lama bekerja di sini? Mengapa kamu tidak tahu buah mana yang sudah manis?” tanya sang majikan.

Mubarok menjawab, “Maaf tuan, saya tidak tahu bagaimana rasa buah-buahan yang tumbuh di kebun ini karena tidak pernah mencicipinya!”

“Aneh, bukankah amat mudah bagimu untuk memetik buah-buahan di sini, mengapa tidak ada satu pun yang kau makan?” tanya majikannya.

“Pesan orang tua dan guru saya, tidak boleh makan sesuatu yang belum jelas kehalalannya bagiku. Buah-buahan itu bukan milikku, jadi aku tidak berhak untuk memakannya sebelum memperoleh izin dari pemiliknya,” jelas Mubarok.

Sang majikan terkejut dengan penjelasan penjaga kebunnya tersebut.

Dia tidak lagi memandang Mubarok sebatas tukang kebun, melainkan sebagai seseorang yang jujur, hatinya jernih, pikirannya bersih, dan tinggi kedudukannya di mata Allah Swt.

Ia berpikir mungkin Mubarok bisa mencarikan jalan keluar atas permasalahan rumit yang tengah dihadapinya.

Mulailah sang majikan bercerita tentang lamaran kerabat dan teman-teman dekatnya kepada putrinya.

Ia mengakhiri ceritanya dengan bertanya kepada Mubarok, “Menurutmu, siapakah yang pantas menjadi pendamping putriku?”

Mubarok menjawab, “Dulu orang-orang jahiliah mencarikan calon suami untuk putri-putri mereka berdasarkan keturunan. Orang Yahudi menikahkan putrinya berdasarkan harta, sementara orang Nasrani menikahkan putrinya berdasarkan keelokan fisik semata. Namun, Rasulullah mengajarkan sebaik-baiknya umat adalah yang menikahkan karena agama dan kepribadiannya,”

Sang majikan langsung tersadar akan kekhilafannya. Mubarok benar, mengapat tidak terpikirkan untuk kembali pada al Qur’an dan Sunnah. Islamlah solusi atas semua problematika umat manusia.

Ia pulang dan memberitakan seluruh kejadian tadi kepada istrinya.

“Menurutku Mubaroklah yang pantas menjadi pendamping putri kita” usulnya kepada sang istri. Tanpa perdebatan panjang, sang putri langsung menyetujuinya.

Pernikahan bahagia dilangsungkan. Dari keduanya lahirlah seorang anak bernama Abdullah bin Mubarok. Ia adalah seorang ulama, ahli hadis, dan mujahid.

Ya, pernikahan yang dirahmati Allah Swt dari dua insan yang taat beribadah, insya Allah, akan diberi keturunan yang mulia.

Source link

Categories Belajar

Leave a Comment