Pengertian Dan Jenis-Jenis Persediaan – Akuntansi

Pengertian Dan Jenis-Jenis Persediaan

Selamat bertemu di blog pelajaran akuntansi dalam topik pembahasan pengertian dan jenis-jenis persediaan, berikut ini pembahasannya. Persediaan merupakan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat dikonversikan ke dalam bentuk kas ketika terjadi suatu transaksi penjualan. Dalam mengelola suatu persediaan dibutuhkan suatu antisipasi permintaan dari pembeli. Perusahaan yang tidak dapat mengelola operasional persediaan sering mengalami kehabisan stok barang tersedia untuk di jual ataupun persediaan barang untuk diolah. Perusahaan sangat erat kaitannya dengan ketersediaan persediaan di gudang untuk menjaga operasional penjualan di perusahaan. 

Permasalahan yang sering dihadapi pada persediaan antara lain risiko keterlambatan barang yang datang dengan barang yang akan dijual, risiko kerusakan barang dan risiko kecurangan, pencurian, kelalaian, dan kesalahan pencatatan persediaan yang diakibatkan oleh kelalaian dari sumber daya manusianya. Untuk meminimalkan permasalahan tersebut, ada baiknya sebuah perusahaan melakukan evaluasi pengendalian internal persediaan barang dagang agar dapat meningkatkan efektivitas dalam mengelola aktivitas yang berhubungan dengan persediaan. 

Pengertian Persediaan

Persediaan merupakan aktiva lancar terbesar dari perusahaan manufaktur atapun perusahaan dagang. Pengaruh persediaan terhadap laba usaha lebih mudah terlihat ketika kegiatan bisnis sedang berfluktuasi.

Pengertian persediaan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2007:14.3) mengemukakan bahwa persediaan adalah aset: 
1. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
2. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan.

3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. 

Pengertian Persediaan Menurut para ahli

Menurut Skousen, Stice (2004:653): 
Persediaan ditujukan untuk barang-barang yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan bisnis normal, dan untuk perusahaan manufaktur persedian ditujukan untuk proses produksi atau yang ditempatkan dalam kegiatan produksi. 

Menurut Kieso, Weygandt, Warfield (2002:443): 
Persediaan (inventory) adalah pos-pos aktiva yang dimiliki untuk dijual dalam operasi bisnis normal atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan dijual. 

Menurut Pendapat Warren, reeve, Fess (2005:440): 
Persediaan adalah barang dagang yang disimpan untuk dijual dalam operasi bisnis perusahan, dan bahan yang digunakan dalam proses produksi atau disimpan untuk tujuan tersebut. Persediaan yang diperoleh perusahaan langsung dijual kembali tanpa mengalami perubahan bentuk atau proses produksi selanjutnya disebut persediaan barang dagang.

Intinya persediaan barang dagang adalah untuk dijual dalam operasi bisnis perusahaan, dan sesuai dengan pendapat warren, reeve dan Fess maka perusahaan bisa saja menyimpan persediaan sebelum dijual didalam sebuah gudang. Hal ini berlaku untuk pedagang-pedagang besar seperti retail yang perputaran persediaannya tinggi, dan untuk mengantisipasi penjualan supaya tidak terjadi kekurangan persediaan. 
Baca Juga: Inflasi untuk perubahan harga dalam ekonomi.
 

Jenis-Jenis Persediaan

Persediaan pada setiap perusahaan adalah berbeda-beda dan jenis persediaan tersebut sesuai dengan jenis kegiatan bisnis perusahaan. 
Persediaan diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Persediaan barang dagangPersediaan barang dagang adalah barang yang diperoleh untuk dijual kembali diperoleh secara fisik tidak diubah kembali, barang tersebut tetap dalam bentuk yang yang telah jadi ketika meninggalkan pabrik pembuatnya. Dalam beberapa hal dapat terjadi beberapa komponen yang dibeli untuk kemudian dirakit menjadi barang jadi. Misalnya, sepeda yang dirakit dari kerangka, roda gear dan sebagainya serta dijual oleh pengecer sepeda adalah salah satu contoh.

b. Persediaan manufaktur

1. Persediaan bahan baku.
Barang berwujud yang dibeli atau diperoleh dengan cara lain, misalnya dengan menambang dan disimpan untuk penggunaan langsung dalam membuat barang untuk dijual kembali. Bagian dari suku cadang yang diproduksi sebelum digunakan kadang-kadang diklasifikasikan sebagai persediaan komponen suku cadang.
2. Persediaan barang dalam proses.
Barang yang membutuhkan proses lebih lanjut sebelum penyelesaian .
3. Barang jadi.
Barang yang sudah selesai diproses dan siap untuk dijual. 

Komponen Biaya Persediaan 

Pengertian dan jenis-jenis persediaan – Komponen biaya persediaan disebut juga dengan inventory cost, dan salah satu tujuan persediaan adalah untuk mendapatkan biaya yang minimum. Adapun unsur-unsur biaya yang terdapat dalam persediaan dapat digolongkan menjadi 4 golongan yaitu: 
1. Biaya Pengadaan (Procurenment Cost)
2. Biaya pembelian (purcbase cost) 
3. Biaya penyimpanan (holding cost/caryng cost)
4. Biaya kekurangan bahan (shortage cost) 

Penjelasannya: 
1. Biaya Pengadaan (Procurenment Cost)
Biaya pengadaan dibedakan atas dua jenis, yaitu:
a. Biaya Pemesanan (Ordering Cost)
Biaya pemesanan adalah biaya yang diperlukan atau dikeluarkan untuk memesan atau membeli suatu barang. Biaya pemesanan antara lain: biaya telepon, biaya surat-menyurat, biaya pengepakan, dan upah. Pada umumnya biaya pemesanan tidak naik apabila kuantitas pesanan bertambah besar. Apabila semakin banyak komponen yang dipesan setiap pemesanan, maka pesanan per periode dan pemesanan total turun. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pemesanan total per periode adalah sama dengan jumlah pesanan yang dilakukan setiap periode dikalikan biaya yang harus dikeluarkan setiap kali pemesanan.

b. Biaya pembuatan (Setup Cost)
Biaya pembuatan adalah semua pengeluaran yang timbul dalam mempersiapkan produksi suatu barang agar barang tersebut menjadi produk siap jual. Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya biaya pembuatan antara lain: biaya penyusunan peralatan produksi, dan biaya perbaikan mesin.

2. Biaya pembelian (purcbase cost)
Biaya pembelian adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian untuk mendapatkan suatu barang. Besarnya biaya pembelian tergantung pada kuantitas barang yang dibeli dan harga suatu barang.

3. Biaya Penyimpanan (holding cost/ caryng cost)
Biaya penyimpanan merupakan biaya yang diperlukan akibat adanya penyimpana barang. Biaya penyimpanan semakin besar apabila kuantitas barang yang disimpan semakin banyak. Dan sebaliknya, biaya penyimpanan kecil apabila kuantitas barang yang disimpang sedikit. Biaya penyimpanan antara lain: biaya fasilitas penyimpanan, biaya modal, biaya asuransi persediaan, dan biaya keusangan.

4. Biaya Kekurangan Bahan (shortage cost)
Biaya kehabisan atau kekurangan bahan adalah biaya yang diperlukan akibat persediaan yang tidak mencukupi karena adanya permintaan barang. Biaya kekurangan bahan baku antara lain: biaya pemesanan khusus, selisih harga, dan biaya kehilangan penjualan. 

Pengendalian Persediaan 

Pengertian dan jenis-jenis persediaan – Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting bagi perusahaan, karena persediaan fisik pada perusahaan akan melibatkan investasi yang sangat besar pada pos aktiva lancar. Pelaksanaan fungsi ini akan berhubungan dengan seluruh bagian yang bertujuan agar usaha penjualan dapat intensif serta produk dan penggunaan sumber daya dapat maksimal. 

Kegiatan pengawasan persediaan tidak terbatas pada penentuan atas tingkat dan komposisi persediaan, tetapi juga termasuk pengaturan dan pengawasan atau pelaksanaan pengadaan bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan dengan biaya yang serendah-rendahnya.

Menurut Henry Simamora 1999:6, pengendalian merupakan proses untuk memastikan bahwa hasil-hasil yang dicapai sesuai dengan rencana-rencana semula. Pengendalian berkisar pada kegiatan memberikan pengamatan, pemantauan, penyelidikan dan pengevaluasian keseluruh bagian manajemen agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.

Pengendalian persediaan diantaranya adalah menetapkan titik maksimum dan minimum persediaan. Menetapkan titik maksimum adalah batas tertinggi dari persediaan yang diperlukan dan biasanya menggambarkan kuantitas minimum ditambah kuantitas pemesanan standar. Titik minimum persediaan adalah batas terendah dari persediaan sesuatu barang atau bahan yang diperlukan. 

Faktor-faktor dalam menetapkan maksimum atau inimum persediaan:
1. Waktu yang di butuhkan untuk membeli persediaan
2. Kuantitas pesanan yang ekonomis
persediaan 
3. Fasilitas pergudangan yang ada
4. Kemungkinan-kemungkinan persediaan yang disimpan mengalami kerusakan
5. Kondisi-kondisi pasar secara umum dan luasnya spekulasi pasar. 

Tujuan Pengendalian Persediaan Bahan Baku 

Tujuan pengendalian persediaan menurut Assauri 1998:177:
1. Menjaga persediaan agar tetap tersedia, dengan kata lain mengantisipasi perusahaan kehabisan persediaan sehingga menyebabkan proses produksi terhambat atau terhenti.
2. Menjaga agar penentuan persediaan oleh perusahaan tidak berlebihan (terlalu besar) yang mengakibatkan meningkatnya biaya penyimpanan atau disebut biaya gudang.
3. Menjaga agar pembelian bahan secara kecil-kecilan dapat dihindari. 


 

Sistem dan Metode Pengendalian Bahan Baku 

Pengertian dan jenis-jenis persediaan, penentuan jumlah persediaan ditentukan sebelum melakukan pembelian persediaan. Jumlah persediaan dapat ditentukan dengan dua sistem ,secara umum dikenal pada akhir periode yaitu: (1) Periodic system yaitu setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara fisik agar jumlah persediaan akhir dapat diketahui jumlahnya secara pasti, (2) Perpectual system yaitu setiap ada pengeluaran diberikan catatan administrasi barang persediaan. Metode pengendalian bahan baku adalah berbeda-beda perlu ketelitian dan kehati-hatian untuk biaya yang akan dikeluarkan. 

Metode pengendalian bahan baku antara lain:

1. Metode Siklus Pemesanan ( Order Cycling Methode)
Metode ini dilakukan dengan memeriksa secara periodik keadaan kuantitas setiap jenis atau golongan persediaan yang ada. Jenis bahan yang bernilai tinggi dan jenis bahan yang merupkan unsur utama dalam operasi yang normal, biasanya memerlukan siklus peninjauan dalam jangka pendek. Untuk jenis bahan yang bernilai rendah dan bersifat tidak rawan, umumnya siklus peninjauan lebih panjang karena bahan-bahan ini akan dipesan dalam jumlah besar dan kekurangan bahan tidak akan menimbulkan banyak biaya.

2. Metode Min-Max
Dalam metode Min-Max kuantitas maksimum dan minimum untuk setiap jenis bahan baku sudah ditentukan. Tingkatan minimum merupakan batas aman yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kekurangan bahan baku, dan tingkat minimum ini sekaligus merupakan titik untuk melakukan pemesanan kembali. Pemesanan kuantitas bahan baku yang dipesan adalah sebesar kebutuhan untuk menjadikan persediaan pada tingkat yang maksimum. Pelaksanaan metode Min-Max ini didasarkan pada observasi fisik atau melalui pencatatan dalam system akuntansi.

3. Metode Two-Bin
Dalam metode Two-Bin persediaan bahan baku dipisahkan ke dalam dua tempat penyimpanan. Prosedur pelaksanaan metode ini adalah apabila tempat penyimpanan kuantititas bahan baku yang pertama sudah habis, maka tempat penyimpanan yang kedua baru dibuka. Pada saat tempat penyimpanan yang kedua ini digunakan perusahaan harus segera melakukan pemesanan barang kembali untuk penyimpanan bahan baku yang pertama.

4. Metode Just-In-Time
MetodeJust-In-Time mengutamakan penghematan investasi pada persediaan bahan baku dan penghematan biaya penyimpanan, yang dilakukan dengan meminimumkan persediaan bahan baku. Tindakan yang paling ekstrim dalam metode ini adalah juga tanpa persediaan bahan baku sama sekali, apabila hendak melakukan produksi baru melakukan pemesanan. Prosedur ini memerlukan koordinasi yang baik dengan pemasok sehingga bahan baku dapat tiba tepat pada waktunya.

5. Metode Rencana ABC (ABC Plan)
Di dalam metode Rencana ABC semua jenis bahan baku dikelompokkan kedalam 3 keompok yaitu kelompok (1) merupakan bahan baku yang penting dan nilainya cukup tinggi, kelompok (2) merupakan jenis bahan baku yang tidak terlalu penting, dan nilainya cukup tinggi, serta kelompok (3) merupakan bahan baku yang tidak penting dan tidak bernilai tinggi.

6. Metode Economic Order Quantity (EOQ)
Metode Metode Economic Order Quantity adalah jumlah pesanan yang dapat meminimumkan total biaya persediaan, pembelian yang optimal. Untuk mencari berapa total bahan yang tetap untuk dibeli dalam setiap kali pembelian untuk menutup kebutuhan selama satu periode.

Model EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya (inverse cost) pemesanan persediaan. Kebijakan-kebijakan EOQ adalah menjamin ketersediaan bahan baku yang tersedia untuk kelancaran proses produksi sehingga tidak ada yang namanya kelebihan persediaan atau kekurangan persediaan. Kebijakan EOQ juga bertujuan meminimalkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sehubungan dengan proses produksi tersebut. Tindakan yang perlu dilakukan dalam kebijakan EOQ adalah menentukan Economic Order Quantity (EOQ), Safety Stock, Reorder Point (ROP). 
Baca juga: Cara membuat jurnal umum dan memposting ke buku besar.

Asumsi metode EOQ sebagai berikut: 

  • Tingkat permintaan (demand rate) adalah konstan, berulang dan diketahui. 
  • Waktu tunggu (lead time) konstan diketahui. Waktu tunggu dari penempatan pesanan sampai penyerahan pesanan selalu merupakan hitungan hari yang tepat. 
  • Tidak di perbolehkan terjadinya kehabisan stock, karena permintaan dan waktu tunggu konstan, maka dapat ditentukan dengan pasti kapan harus memesan bahan untuk mencegah kekurangan stock. 
  • Bahan dipesan atau diproduksi dalam lot atau tumpukan (lots or batch), dan lot itu ditempatkan dalam invntori seluruhnya pada suatu waktu. 
  • Dipakai struktur biaya spesifik bahwa biaya barang per unit konstan dan tidak ada potongan harga untuk pembelian dalam jumlah besar.

Keunggulan dan kelemahan Economic Order Quantity (EOQ)

1. Keunggulan EOQ
a. Metode EOQ memperhitungkan keamanan stock sehingga persediaan bahan baku untuk proses produksi tetap terjamin ketersediannya.
b. Penggunaan metode EOQ akan memperkecil jumlah pemesanan yang diamati, sehingga biaya pemesanan atau biaya penyiapan menjadi lebih kecil.
c. Mudah diaplikasikan pada proses produksi yang hasilnya telah memiliki standar tertentu

2. Kelemahan EOQ
a. Pada metode EOQ biaya penyimpanan bahan baku akan lebih besar, karena ada sejumlah bahan baku yang harus disimpan selama beberapa periode sebelum bahan baku tersebut digunakan untuk di proses.
b. Pemakaian bahan baku terjadi sepanjang tahun


Demikian pembahasan artikel mengenai pengertian dan jenis-jenis persediaan, semoga dengan pemahaman artikel ini anda semakin memahami tentang akuntansi untuk pengertian dan jenis-jenis persediaan. Terimakasih atas kunjungannya dan semoga bermamfaat.

Baca Juga: Surat berharga untuk investasi jangka pendek.



Kesimpulan pengertian dan jenis-jenis persediaan:
Bahwa penyusunan data persediaan perlu dilakukan secara tepat dan akurat sehingga tercapai suatu taraf pengawasan yang baik dan efesien, yang akan meningkatkan kinerja dan usaha pendistribusian untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pengkoordinasian dokumen-dokumen dan arsip yang digunakan secara tepat juga merupakan langkah yang tepat. Bagi pemasok atau pelanggan, pengkoordinasian ini diharapkan mampu mempermudah dalam membuat suatu keputusan yang lebih cepat, karena kegiatan operasional dan transaksi yang dilakukan lebih efektif. 

Demikian pembahasan artikel mengenai pengertian dan jenis-jenis persediaan, semoga dengan pemahaman artikel ini anda semakin memahami tentang akuntansi untuk pengertian dan jenis-jenis persediaan. Terimakasih atas kunjungannya dan semoga bermamfaat.

Source link

Categories Belajar

Leave a Comment